Menyet Cinta Monyet


Tahun 2001

“Pagiiii Dona.....Hoaammm... “ Saya kembali mengeluarkan bakat yang terpendam pagi ini, terlambat bangun.

“Tidak takutko rejekimu di patok ayam?”  Sindir Dona, Satpam nyiur melambai di sekolah

“Tenang.. ayam dirumah sudah semua mi ku potong, mauko menyusul?” #Bhiikkkk


               Hari ini bertepatan dengan hari pertama masuk sekolah di kelas 6 SD, masih berada di kampung yang lokasinya tidak ada di peta. Hari ini terasa istimewa karena kelas kami kedatangan murid baru dari Jakarta, kini giliran saya yang histeris seperti kerasukan setannya Adjie Masaid (Tetap Stay Cool).


“Nama saya Anggita Radista.. panggil saja Anggi” singkat perkenalan murid baru itu
“Hai...Anggi” Balas teman satu kelas, Kayaknya Cuma saya pada waktu itu yang berkata “Hai..beb”

              Ukuran anak SD apalagi di kampung, Anggi ini ibarat Sekolah dia sudah bertaraf Internasional. Rambutnya ikal panjang, putih kecuali rambutnya, lumayan tinggi..sixpack *eh maksudnya proporsional  lah #aseekk. Seminggu dia bersekolah disini nampaknya sudah terlihat gerak-gerik senter jarak jauh dari teman saya. Namanya Anjas ,teman sekelas biasa memanggilnya Nyet, rambut belah samping rapat tikungan tajam, terdapat tainya lalat di dagu.. wets rano karno kah? Ibarat sekolah, anjas ini tarafnya masih sekolah luar biasa. Mungkin waktu bayi dia menyusunya sama bapaknya.

                Walaupun tidak terlalu akrab, anjas ini sering membelikan saya es manis.. mungkin modus dia supaya kegantengannya bertambah sekian persen kalau dekat sama saya #uhuukkk. Singkat cerita, mungkin karena tidak mampu lagi membendung perasaannya kepada anggi, dia mencoba curhat kepada saya.
*Dalam Hati* “Orang kampung ternyata lebih cepat Pubernya”

                Saya juga kurang tahu apa yang menjadi alasan Anjas menjadikan saya kandidat terkuat sebagai teman curhatnya, mungkin dia pernah melihat saya menang kuis.. atau kemungkinan besar ini Cuma modus dia supaya bisa mengenal saya lebih dekat lagi, just info *mukanya anjas kayak Homo*
Dengan rasa kasihan, saya pun mencoba menjadi pendengar yang baik setiap kata demi kata, dari jauh memang tampak seperti dua pasangan Homreng. *semoga saja tidak ada Paparazzi yang melihat* #YouKnowMilah

“Dari pertamanya Anggi masuk,ini hati kayak bergetar saya rasa.. tapi ku coba pendamki dulu, takutnya anggi tidak punya rasa yang sama kayak saya” Curhatnya Nyet
*Yaiyalah Bodo’, kau yang terlalu lale..belum berapa hari, kalau sudah ada photoshop itu hari sudah saya edit ini mukamu*

              Dengan rasa kesal dalam hati, saya mencoba memberi saran yang baik “Sabar saja dulu..takutnya Anggi pikir kau terlalu agresif, pokoknya kasih saja perhatian sama dia.. kalau kau rasa dia juga punya rasa yang sama baruko Menyet Nyet Monyet..”

             Anjas pun nampaknya mulai sedikit agak tenang dengan penjelasan saya tadi. Dia pun mendengar saran saya, tiap hari dia mengajak Anggi makan di kantin.. mungkin kalau disuruh cabut bulu keteknya Agung hercules, Anjas juga pasti rela melakukannya.

             Hingga pada suatu hari Anjas mencoba membuat bolu cokelat yang dia buat bersama ibunya, dia sengaja membuat dua buah. Yang bolu satunya dia berikan kepada saya untuk dicoba sebelum dia memberikan bolu itu kepada anggi.

“hmmm...” sambil menguyah bolu buatan anjas
“enak ji? Bagaimana rasanya?”
“Rasa bolu cokelatnya Cuma sekitar 20%, 80% nya lebih mirip kumpulan keringat dari ketek-ketek supir pete-pete yang dikumpulkan menjadi satu” *menjelaskan pakai gaya guru Pancasila*

             Tidak masalah menurut saya enak atau tidaknya ini bolu, yang penting kamu berani memberikan ini kepadanya. Kalau saya lihat Anggi bukan tipe orang yang tidak menghargai pemberian orang *Buktinya dia rela menahan tidak muntah saat jalan berdua dengan Anjas*

               Bel pulang sekolah pun berbunyi, anjas mencoba memberanikan diri memberi bolu tersebut

“Ini kue bolu tadi pagi sengaja saya bikin buat Anggi, diterima nah?” ucap anjas sambil mencoba menahan gugup
“Oh,iya.. makasih Nyet, waduh..jadi merepotkan nih? Kamu baik banget sih..”

             Kata-kata anggi barusan langsung membuat anjas seperti terbang ke langit kelima, walaupun tidak sampai ke langit tujuh karena sepedanya mogok.
*Inimi yang na cari macea* Ungkap dalam hati Anjas

               Seakan tidak mau melepas moment yang indah ini, Anjas mencoba memberanikan diri Menyatakan cintanya langsung.. mumpung anggi belum insaf

“Sebenarnya lamami saya suka ki’.. kalau saya menyet kira-kira saya diterima ndak?” Tanpa berlama-lama,Anjas mencoba to the point

              Spontan Anggi langsung keterkagetan mendengarnya, rasanya seperti disuruh cium siku sendiri.. biar sampai ayam beranak pun tidak akan bisa

“Kenapa diam? Bagaimana jawabannya?”  Si Nyet yang satu ini sudah tidak sabar

             Tiba-tiba Ahmad dhani pun datang “Hmm... kalau aku yes, gak tahu kalau Mas Anang”
Entah kebetulan atau tidak, ternyata dari tadi mas Anang Ngumpet di balik rok anggy “Aku... aku... aku yess juga!”

Mendengar jawaban kedua juri tersebut, Anggi pun segera menjawab *seakan-akannya Agnes monitor* “Ciiiieeeee... diterima sama mas dhani sama mas anang.. cieeee, suiitt suittt hoomoo niyehhh.. skumet aja skumet!”
Nampaknya jawaban Anggi barusan membuat luka pedis hati Anjas, rasanya lebih pedis dari keripik ma’icih level 10 enelan...

            Anjas tampak frustasi, dia melalui hari-harinya dengan murung. Dia tidak mau lagi mendengar sesuatu yang berhubungan dengan anggi, bahkan nama anggi yang dia tatto dari biji jambu monyet di tangannya pun dihapus

Saya mencoba memberikan semangat kepada Anjas “Mungkin memang apa yang Anggi katakan ada benarnya, kayaknya kamu memang terlahir sebagai seorang Homo”

-----------------------------------------------To Be Continued----------------------------------------

Comments

Unknown said…
ini juga cerita.. kenapa langsung ada eks faktor..

Popular posts from this blog

Malin Kutang

Rumus Excel

Banci VS Homo