Menyet Cinta Monyet
“Pagiiii Dona.....Hoaammm... “ Saya kembali
mengeluarkan bakat yang terpendam pagi ini, terlambat bangun.
“Tidak takutko rejekimu di patok ayam?” Sindir Dona, Satpam nyiur melambai di sekolah
“Tenang.. ayam dirumah sudah semua mi ku
potong, mauko menyusul?” #Bhiikkkk
Hari ini bertepatan dengan hari pertama masuk
sekolah di kelas 6 SD, masih berada di kampung yang lokasinya tidak ada di
peta. Hari ini terasa istimewa karena kelas kami kedatangan murid baru dari
Jakarta, kini giliran saya yang histeris seperti kerasukan setannya Adjie
Masaid (Tetap Stay Cool).
“Nama saya Anggita Radista.. panggil saja
Anggi” singkat perkenalan murid baru itu
“Hai...Anggi” Balas teman satu kelas, Kayaknya
Cuma saya pada waktu itu yang berkata “Hai..beb”
Ukuran anak SD apalagi di kampung, Anggi ini
ibarat Sekolah dia sudah bertaraf Internasional. Rambutnya ikal panjang, putih
kecuali rambutnya, lumayan tinggi..sixpack *eh maksudnya proporsional lah #aseekk. Seminggu dia bersekolah disini
nampaknya sudah terlihat gerak-gerik senter jarak jauh dari teman saya. Namanya
Anjas ,teman sekelas biasa memanggilnya Nyet, rambut belah samping rapat
tikungan tajam, terdapat tainya lalat di dagu.. wets rano karno kah? Ibarat
sekolah, anjas ini tarafnya masih sekolah luar biasa. Mungkin waktu bayi dia
menyusunya sama bapaknya.
Walaupun tidak terlalu akrab, anjas ini sering
membelikan saya es manis.. mungkin modus dia supaya kegantengannya bertambah
sekian persen kalau dekat sama saya #uhuukkk. Singkat cerita, mungkin karena
tidak mampu lagi membendung perasaannya kepada anggi, dia mencoba curhat kepada
saya.
*Dalam Hati* “Orang kampung ternyata lebih
cepat Pubernya”
Saya juga kurang tahu apa yang menjadi alasan
Anjas menjadikan saya kandidat terkuat sebagai teman curhatnya, mungkin dia
pernah melihat saya menang kuis.. atau kemungkinan besar ini Cuma modus dia
supaya bisa mengenal saya lebih dekat lagi, just info *mukanya anjas kayak
Homo*
Dengan rasa kasihan, saya pun mencoba menjadi
pendengar yang baik setiap kata demi kata, dari jauh memang tampak seperti dua
pasangan Homreng. *semoga saja tidak ada Paparazzi yang melihat* #YouKnowMilah
“Dari pertamanya Anggi masuk,ini hati kayak
bergetar saya rasa.. tapi ku coba pendamki dulu, takutnya anggi tidak punya
rasa yang sama kayak saya” Curhatnya Nyet
*Yaiyalah Bodo’, kau yang terlalu lale..belum
berapa hari, kalau sudah ada photoshop itu hari sudah saya edit ini mukamu*
Dengan rasa kesal dalam hati, saya mencoba
memberi saran yang baik “Sabar saja dulu..takutnya Anggi pikir kau terlalu
agresif, pokoknya kasih saja perhatian sama dia.. kalau kau rasa dia juga punya
rasa yang sama baruko Menyet Nyet Monyet..”
Anjas pun nampaknya mulai sedikit agak tenang
dengan penjelasan saya tadi. Dia pun mendengar saran saya, tiap hari dia
mengajak Anggi makan di kantin.. mungkin kalau disuruh cabut bulu keteknya
Agung hercules, Anjas juga pasti rela melakukannya.
Hingga pada suatu hari Anjas mencoba membuat
bolu cokelat yang dia buat bersama ibunya, dia sengaja membuat dua buah. Yang
bolu satunya dia berikan kepada saya untuk dicoba sebelum dia memberikan bolu
itu kepada anggi.
“hmmm...” sambil menguyah bolu buatan anjas
“enak ji? Bagaimana rasanya?”
“Rasa bolu cokelatnya Cuma sekitar 20%, 80%
nya lebih mirip kumpulan keringat dari ketek-ketek supir pete-pete yang
dikumpulkan menjadi satu” *menjelaskan pakai gaya guru Pancasila*
Tidak masalah menurut saya enak atau tidaknya
ini bolu, yang penting kamu berani memberikan ini kepadanya. Kalau saya lihat
Anggi bukan tipe orang yang tidak menghargai pemberian orang *Buktinya dia rela
menahan tidak muntah saat jalan berdua dengan Anjas*
Bel pulang sekolah pun berbunyi, anjas mencoba
memberanikan diri memberi bolu tersebut
“Ini kue bolu tadi pagi sengaja saya bikin
buat Anggi, diterima nah?” ucap anjas sambil mencoba menahan gugup
“Oh,iya.. makasih Nyet, waduh..jadi merepotkan
nih? Kamu baik banget sih..”
Kata-kata anggi barusan langsung membuat anjas
seperti terbang ke langit kelima, walaupun tidak sampai ke langit tujuh karena
sepedanya mogok.
*Inimi yang na cari macea* Ungkap dalam hati
Anjas
Seakan tidak mau melepas moment yang indah
ini, Anjas mencoba memberanikan diri Menyatakan cintanya langsung.. mumpung
anggi belum insaf
“Sebenarnya lamami saya suka ki’.. kalau saya
menyet kira-kira saya diterima ndak?” Tanpa berlama-lama,Anjas mencoba to the
point
Spontan Anggi langsung keterkagetan
mendengarnya, rasanya seperti disuruh cium siku sendiri.. biar sampai ayam
beranak pun tidak akan bisa
“Kenapa diam? Bagaimana jawabannya?” Si Nyet yang satu ini sudah tidak sabar
Tiba-tiba Ahmad dhani pun datang “Hmm... kalau
aku yes, gak tahu kalau Mas Anang”
Entah kebetulan atau tidak, ternyata dari tadi
mas Anang Ngumpet di balik rok anggy “Aku... aku... aku yess juga!”
Mendengar jawaban kedua juri tersebut, Anggi
pun segera menjawab *seakan-akannya Agnes monitor* “Ciiiieeeee... diterima sama
mas dhani sama mas anang.. cieeee, suiitt suittt hoomoo niyehhh.. skumet aja
skumet!”
Nampaknya jawaban Anggi barusan membuat luka
pedis hati Anjas, rasanya lebih pedis dari keripik ma’icih level 10 enelan...
Anjas tampak frustasi, dia melalui
hari-harinya dengan murung. Dia tidak mau lagi mendengar sesuatu yang
berhubungan dengan anggi, bahkan nama anggi yang dia tatto dari biji jambu
monyet di tangannya pun dihapus
Saya mencoba memberikan semangat kepada Anjas
“Mungkin memang apa yang Anggi katakan ada benarnya, kayaknya kamu memang
terlahir sebagai seorang Homo”
-----------------------------------------------To
Be Continued----------------------------------------

Comments