Ibu..Bahan Bakarku
Ibu.. Macam-macam kalimat yang bisa kita ucapkan pertama kali ketika mendengar kalimat ini, memang hanya terdiri dari 3 huruf,tapi pengertiannya bisa seperti jumlah bintang dilangit..tidak bisa dihitung
Ketika ditanya kepada saya,apa arti ibu bagi kamu? Yang terlintas pada waktu itu cuma 2 :
1. Pahlawan
Pahlawan.. berjuang melawan penjajah tanpa pamrih, layaknya ibu yang merawat kita mulai dari mengandung.. 9 bulan bukan waktu yang singkat untuk menahan berat kita diperutnya, menahan rasa mual ketika makan, perjuangannya melahirkan kita walaupun nyawa taruhannya, tanpa rasa jijik dia membersihkan kotoran kita, merawat dan membesarkan kita dengan ikhlas, jika ibu meminta imbalan.. Seluas apapun tanah yang kamu miliki itu hanya bisa membayar 0,1% dari harga perjuangan ibu.
2. Bahan Bakarku
Walau semahal apapun sebuah kendaraan,semahal apapun mesin yang ada di dalamnya,semahal apapun ban dan velgnya tapi semua itu tidak akan berarti apa-apa tanpa bahan bakar. Ibu yang membuat kita bisa berjalan, ketika terjatuh dia yang mengangkat kita, ketika kita lemah tidak berdaya dia yang menopang kita, ketika kita tersesat dia yang meluruskan jalan kita, ketika kita butuh teman curhat dia meninggalkan masakannya di dapur dan duduk manis siap menjadi pendengar yang baik, Ibulah yang menjadi bahan bakarku.. Saya lumpuh tanpanya.
Rabu, 24 Oktober 2012
Andre Ekawijaya is my inspiring dalam menulis cerita ini, ibunya sedang terbaring di rumah sakit dan akan menjalani operasi. Lewat Hastag #SajakUntukIbu yang dibuatnya di Twitter (@Andre_Shibuya) ketika itu, saya mencoba membuat beberapa tweet yang mudah-mudahan bisa membuatnya lebih kuat. Andre menginspirasi saya membuat cerpen ini, saya mengingat kembali perjuangan ibu teman saya, kisahnya seperti ini]
Muhammad Ekawijaya,panggilannya Eka seorang sarjana ekonomi yang kini tengah menyelesaikan program Doktornya di Universitas Negeri Makassar, bukan tidak mungkin seorang dari kalangan ekonomi rendah sepertinya bisa mengecap pendidikan setinggi itu, tidak lain tidak bukan berkat perjuangan dan pengorbanan ibunya sendiri. Mace saya biasa memanggilnya, orangnya ramah, selalu membuatkan teh ketika saya dan teman-teman datang kerumah eka.
Beliau bekerja hanya sebagai buruh cuci,di samping upahnya yang tidak terlalu banyak,tubuhnya pun sudah tidak kuat melakukan pekerjaan itu, di usianya yang 50 tahun harusnya dia hanya istirahat dirumahnya.
Eka sangat bersyukur mempunyai ibu yang memiliki jiwa yang mulia,mengajarkannya tentang keihklasan menghadapi hidup. Eka tidak pernah iri kepada teman-temannya karena keluarganya yang miskin,memiliki seorang ibu sudah cukup berkecukupan baginya. Karena tidak semua keluarga yang berkecukupan dapat menjamin kebahagiaan dalam keluarganya.
Banyak contoh di sekitar kita, teman kampus yang naik mobil pribadi, HP gonta-ganti merek terbaru, makan siang di restoran mewah, tapi mereka tidak mendapatkan kasih sayang yang cukup karena orang tuanya sendiri terlalu sibuk dengan pekerjaan dan bisnisnya. Kebahagiaan yang mereka tampilkan hanya semu, mereka tidak diajarkan apa arti ibu.
Eka termasuk siswa yang berprestasi di sekolahnya, ia selalu mendapatkan beasiswa. Dari beasiswa inilah dia mampu melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi, dan mengurangi beban biaya orang tuanya.
Sejak kuliah, eka numpang kos di pondokan temannya, tempatnya dekat dengan kampusnya sehingga dapat menghemat ongkos biayanya. Di kampus pun eka termasuk orang yang dihormati,selain pintar dia merupakan ketua BEM.
Sampai pada suatu hari,ibunya sangat merindukan anaknya setelah beberapa bulan eka tidak pulang. Ibunya mendatangi kosnya tanpa memberitahu eka terlebih dahulu. Dia membawakan makanan kesukaannya dan alat sholat berupa sarung,songkok serta al-qur'an kecil yang diselipkan di dalamnya. Sesampainya di kos,ibunya hanya menjumpai teman kos eka
''Assalamu alaikum''
''walaikum salam, masukki..''
''janganmi nak, ini adaji mau kutitip untuk eka''
''oh iye.. Nanti saya sampaikan,Dari siapa?''
''Bilangmi saja dari tetangganya..''
Ibunya berbohong pada waktu itu, dia takut Eka malu kepada temannya karena memiliki ibu miskin yang cuma seorang tukang cuci. Dia pun bergegas pergi,walaupun sebenarnya dia ingin sekali melihat wajah anaknya. Tidak jauh kakinya melangkah terdengar suara teriak dari dalam kos
''Buu... Buuu..''
Ternyata itu Eka, dia memeluk erat tubuh ibunya dan mencium tangannya
''Kenapaki ndak mau ketemu sama saya? Adaja' tadi di dalam,makan ka'.. Sudah meki' makan?'' sapa eka dengan akrab kepada ibunya
''Takut ka' nanti maluko nak sama temanmu kalau na tahu ka' ibumu kayak begini modelnya'' kata ibunya Sambil menangis
''Kenapa bicara begituki'? Ndk pernah ja' malu, apanya mau di malui..justru bangga k', kita itu limited edition tidak ada samana'' kata Eka mencoba menghibur ibunya.
''Jangko lupa sholat nak nah..ada itu al-qur'an saya bawakanko,baca-bacai''
''Iye bu''
3 tahun kemudian tibalah eka pada hari-hari membahagiakan baginya, hari ini adalah hari wisudanya dan dia pun terpilih sebagai lulusan terbaik dengan indeks prestasi 3,8. Awalnya ibunya berjanji akan datang di acara wisudanya, tapi sampai akhir acara ibunya tidak kunjung datang *Mungkin ibu tidak di izinkan libur sama majikannya* ucap Eka dalam hati.
Selesai acara wisuda, Eka pun bergegas kembali ke rumah dengan rasa bahagia memegang erat ijazah sarjananya. Betapa kagetnya eka ketika sampai dirumah mendapati ibunya terbaring lemah tak berdaya, dengan bantuan tetangganya,dia segera membawa ibunya ke rumah sakit Dr.Wahidin Sudirohusodo. Ibunya langsung dimasukkan ke Instalasi Unit Gawat Darurat.
Eka hanya terus mengusap dahi ibunya sambil terus membisikkan shalawat di telinganya.
''Wisudaki' hari ini nak? Selamat nah.. Ada ayam itu saya masakkanki' dirumah,makanki' nanti kalau pulang dari sini, ndak lamami ini ibu''
Lailaha illallah muhammadarrasulullah.. Kalimat terakhir yang diucapkan sebelum menghembuskan nafas terakhirnya.
Penyakit yang bertahun-tahun dia simpan, seakan tidak dia rasakan demi memperjuangkan masa depan anaknya. Sakitnya ia obati dengan senyum yang tergores dibibir anaknya.
Ibu tidak pernah menangis didepan kita,kalaupun ingin menangis itu karena sudah tidak kuat menahan rasa haru dan bangga kepada anaknya.
Semoga cerita ini dapat membuat kita memahami apa arti ibu, selama kita masih memilikinya di dunia ini buat dia bahagia, manjakan dia seperti dia memanjakan kita sewaktu masih kecil. Sebelum Ibu meninggalkan kita,beri dia kesempatan melihat anaknya sukses.
Eka pernah berkata kepada saya : ''Itu hari waktu ku bawa macea pi rumah sakit,Dokter spesialis penyakit dalam bilang begini sama saya ''Ibumu sudah tidak bisami sembuh'', tapi Mace bilang ''Bisaja' sembuh nak''.. Lebih ku percaya maceku!''
Amos Broncon Aslot pernah berkata : ''Sosok ibu sejati itu selalu tahu apa yang anaknya inginkan, sampai-sampai dia hampir tidak mengetahui apa yang diinginkannya sendiri''.
Dalam Program Acara TV Golden Girls pernah menyebutkan : ''Tidaklah mudah menjadi seorang ibu, Jika menjadi ibu itu mudah, ayah akan melakukannya''.
Oprah Winfrey pernah berkata: ''Dia adalah ibu terbaik yang pernah saya miliki, dia adalah saudari yang setiap orang inginkan, dia adalah sahabat yang berhak dimiliki setiap orang, saya belum pernah menjumpai orang sebaik dia''.
Seorang ibu berkata pada anaknya : ''Jika kamu mengalami kesulitan, berdoalah ibumu ini masih bisa mendoakanmu untuk lepaskan kesulitanmu, Tuhan pasti mendengar apa yang ibu doakan''
Ibuku pernah berkata : ''Jalani terus jalan yang lurus, tidak akan pernah ada lampu merah yang akan menghentikanmu di setiap jalan yang lurus itu''
Ketika ditanya kepada saya,apa arti ibu bagi kamu? Yang terlintas pada waktu itu cuma 2 :
1. Pahlawan
Pahlawan.. berjuang melawan penjajah tanpa pamrih, layaknya ibu yang merawat kita mulai dari mengandung.. 9 bulan bukan waktu yang singkat untuk menahan berat kita diperutnya, menahan rasa mual ketika makan, perjuangannya melahirkan kita walaupun nyawa taruhannya, tanpa rasa jijik dia membersihkan kotoran kita, merawat dan membesarkan kita dengan ikhlas, jika ibu meminta imbalan.. Seluas apapun tanah yang kamu miliki itu hanya bisa membayar 0,1% dari harga perjuangan ibu.
2. Bahan Bakarku
Walau semahal apapun sebuah kendaraan,semahal apapun mesin yang ada di dalamnya,semahal apapun ban dan velgnya tapi semua itu tidak akan berarti apa-apa tanpa bahan bakar. Ibu yang membuat kita bisa berjalan, ketika terjatuh dia yang mengangkat kita, ketika kita lemah tidak berdaya dia yang menopang kita, ketika kita tersesat dia yang meluruskan jalan kita, ketika kita butuh teman curhat dia meninggalkan masakannya di dapur dan duduk manis siap menjadi pendengar yang baik, Ibulah yang menjadi bahan bakarku.. Saya lumpuh tanpanya.
Rabu, 24 Oktober 2012
Andre Ekawijaya is my inspiring dalam menulis cerita ini, ibunya sedang terbaring di rumah sakit dan akan menjalani operasi. Lewat Hastag #SajakUntukIbu yang dibuatnya di Twitter (@Andre_Shibuya) ketika itu, saya mencoba membuat beberapa tweet yang mudah-mudahan bisa membuatnya lebih kuat. Andre menginspirasi saya membuat cerpen ini, saya mengingat kembali perjuangan ibu teman saya, kisahnya seperti ini]
Muhammad Ekawijaya,panggilannya Eka seorang sarjana ekonomi yang kini tengah menyelesaikan program Doktornya di Universitas Negeri Makassar, bukan tidak mungkin seorang dari kalangan ekonomi rendah sepertinya bisa mengecap pendidikan setinggi itu, tidak lain tidak bukan berkat perjuangan dan pengorbanan ibunya sendiri. Mace saya biasa memanggilnya, orangnya ramah, selalu membuatkan teh ketika saya dan teman-teman datang kerumah eka.
Beliau bekerja hanya sebagai buruh cuci,di samping upahnya yang tidak terlalu banyak,tubuhnya pun sudah tidak kuat melakukan pekerjaan itu, di usianya yang 50 tahun harusnya dia hanya istirahat dirumahnya.
Eka sangat bersyukur mempunyai ibu yang memiliki jiwa yang mulia,mengajarkannya tentang keihklasan menghadapi hidup. Eka tidak pernah iri kepada teman-temannya karena keluarganya yang miskin,memiliki seorang ibu sudah cukup berkecukupan baginya. Karena tidak semua keluarga yang berkecukupan dapat menjamin kebahagiaan dalam keluarganya.
Banyak contoh di sekitar kita, teman kampus yang naik mobil pribadi, HP gonta-ganti merek terbaru, makan siang di restoran mewah, tapi mereka tidak mendapatkan kasih sayang yang cukup karena orang tuanya sendiri terlalu sibuk dengan pekerjaan dan bisnisnya. Kebahagiaan yang mereka tampilkan hanya semu, mereka tidak diajarkan apa arti ibu.
Eka termasuk siswa yang berprestasi di sekolahnya, ia selalu mendapatkan beasiswa. Dari beasiswa inilah dia mampu melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi, dan mengurangi beban biaya orang tuanya.
Sejak kuliah, eka numpang kos di pondokan temannya, tempatnya dekat dengan kampusnya sehingga dapat menghemat ongkos biayanya. Di kampus pun eka termasuk orang yang dihormati,selain pintar dia merupakan ketua BEM.
Sampai pada suatu hari,ibunya sangat merindukan anaknya setelah beberapa bulan eka tidak pulang. Ibunya mendatangi kosnya tanpa memberitahu eka terlebih dahulu. Dia membawakan makanan kesukaannya dan alat sholat berupa sarung,songkok serta al-qur'an kecil yang diselipkan di dalamnya. Sesampainya di kos,ibunya hanya menjumpai teman kos eka
''Assalamu alaikum''
''walaikum salam, masukki..''
''janganmi nak, ini adaji mau kutitip untuk eka''
''oh iye.. Nanti saya sampaikan,Dari siapa?''
''Bilangmi saja dari tetangganya..''
Ibunya berbohong pada waktu itu, dia takut Eka malu kepada temannya karena memiliki ibu miskin yang cuma seorang tukang cuci. Dia pun bergegas pergi,walaupun sebenarnya dia ingin sekali melihat wajah anaknya. Tidak jauh kakinya melangkah terdengar suara teriak dari dalam kos
''Buu... Buuu..''
Ternyata itu Eka, dia memeluk erat tubuh ibunya dan mencium tangannya
''Kenapaki ndak mau ketemu sama saya? Adaja' tadi di dalam,makan ka'.. Sudah meki' makan?'' sapa eka dengan akrab kepada ibunya
''Takut ka' nanti maluko nak sama temanmu kalau na tahu ka' ibumu kayak begini modelnya'' kata ibunya Sambil menangis
''Kenapa bicara begituki'? Ndk pernah ja' malu, apanya mau di malui..justru bangga k', kita itu limited edition tidak ada samana'' kata Eka mencoba menghibur ibunya.
''Jangko lupa sholat nak nah..ada itu al-qur'an saya bawakanko,baca-bacai''
''Iye bu''
3 tahun kemudian tibalah eka pada hari-hari membahagiakan baginya, hari ini adalah hari wisudanya dan dia pun terpilih sebagai lulusan terbaik dengan indeks prestasi 3,8. Awalnya ibunya berjanji akan datang di acara wisudanya, tapi sampai akhir acara ibunya tidak kunjung datang *Mungkin ibu tidak di izinkan libur sama majikannya* ucap Eka dalam hati.
Selesai acara wisuda, Eka pun bergegas kembali ke rumah dengan rasa bahagia memegang erat ijazah sarjananya. Betapa kagetnya eka ketika sampai dirumah mendapati ibunya terbaring lemah tak berdaya, dengan bantuan tetangganya,dia segera membawa ibunya ke rumah sakit Dr.Wahidin Sudirohusodo. Ibunya langsung dimasukkan ke Instalasi Unit Gawat Darurat.
Eka hanya terus mengusap dahi ibunya sambil terus membisikkan shalawat di telinganya.
''Wisudaki' hari ini nak? Selamat nah.. Ada ayam itu saya masakkanki' dirumah,makanki' nanti kalau pulang dari sini, ndak lamami ini ibu''
Lailaha illallah muhammadarrasulullah.. Kalimat terakhir yang diucapkan sebelum menghembuskan nafas terakhirnya.
Penyakit yang bertahun-tahun dia simpan, seakan tidak dia rasakan demi memperjuangkan masa depan anaknya. Sakitnya ia obati dengan senyum yang tergores dibibir anaknya.
Ibu tidak pernah menangis didepan kita,kalaupun ingin menangis itu karena sudah tidak kuat menahan rasa haru dan bangga kepada anaknya.
Semoga cerita ini dapat membuat kita memahami apa arti ibu, selama kita masih memilikinya di dunia ini buat dia bahagia, manjakan dia seperti dia memanjakan kita sewaktu masih kecil. Sebelum Ibu meninggalkan kita,beri dia kesempatan melihat anaknya sukses.
Eka pernah berkata kepada saya : ''Itu hari waktu ku bawa macea pi rumah sakit,Dokter spesialis penyakit dalam bilang begini sama saya ''Ibumu sudah tidak bisami sembuh'', tapi Mace bilang ''Bisaja' sembuh nak''.. Lebih ku percaya maceku!''
Amos Broncon Aslot pernah berkata : ''Sosok ibu sejati itu selalu tahu apa yang anaknya inginkan, sampai-sampai dia hampir tidak mengetahui apa yang diinginkannya sendiri''.
Dalam Program Acara TV Golden Girls pernah menyebutkan : ''Tidaklah mudah menjadi seorang ibu, Jika menjadi ibu itu mudah, ayah akan melakukannya''.
Oprah Winfrey pernah berkata: ''Dia adalah ibu terbaik yang pernah saya miliki, dia adalah saudari yang setiap orang inginkan, dia adalah sahabat yang berhak dimiliki setiap orang, saya belum pernah menjumpai orang sebaik dia''.
Seorang ibu berkata pada anaknya : ''Jika kamu mengalami kesulitan, berdoalah ibumu ini masih bisa mendoakanmu untuk lepaskan kesulitanmu, Tuhan pasti mendengar apa yang ibu doakan''
Ibuku pernah berkata : ''Jalani terus jalan yang lurus, tidak akan pernah ada lampu merah yang akan menghentikanmu di setiap jalan yang lurus itu''

Comments